TELEPATI
“Okay ma, liburan musim panas ini aku pasti
ke desa kok. Aku tutup dulu ya telponnya, dah!”
“Siapa Tha?”
tanya Justine.
“Biasa,
mamaku menyuruhku untuk ke desa. Katanya sih supaya aku bisa refreshing” jawabku.
“oh, kalau
kamu mau berangkat ke desa bilang aku ya. Aku mau bareng sama kamu, aku mau
pulang ke rumah keluargaku” ucap Justine. “ya sudah, aku pulang ke apartemen
dulu. Sudah selesai kan tugasnya tadi?” tanyanya.
“sudah,
cepat pulang sana” ujarku.
Malam ini adalah malam yang indah.
Banyak sekali bintang yang menghiasi langit kota Paris.
“Kenapa sepi
sekali sih?” gerutuku. “Halo, Justine.
Kamu dimana? Aku akan berangkat malam ini juga” ujarku lewat telepon.
“Lho, kenapa
mendadak sekali?” tanya Justine, teman kecilku yang juga teman sekelasku di SMA.
“Kamu mau
ikut atau tidak?” tanyaku.
“Eh, iya-iya.
Tunggu aku, kita ke desa naik mobilku” ujar Justine.
“Tidak.
Pakai mobilku saja. Aku tidak mau meninggalkannya sendiri disini. Kalau kamu
tidak mau aku akan berangkat sendiri” ujarku tidak terima.
“Baiklah
Nathalie Pevensie.. Okay! Tapi aku yang kemudikan, sampai ketemu nanti” gerutu
Justine yang membuatku sedikit tersenyum.
Setelah
cukup lama, akhirnya kami sampai di desa tempat tinggal bibi, seorang pembantu
rumah tangga yang ada di rumahku. Mama dan papa selalu sibuk ke luar negeri
sehingga aku biasanya pergi ke desa untuk berlibur. Sebenarnya rumah bibi itu
adalah sebuah rumah cukup besar yang diberikan papa kepada bibi, orangtuaku
meminta bibi untuk menerimaku dengan senang hati kapanpun aku akan kesana. Rumah
keluarga Justine berada tepat di sebelah rumah bibi.
Tok tok tok!
Ada seorang
wanita separuh baya yang membuka pintu, “Oh Nona, silahkan masuk. Saya akan
bereskan barang-barang anda” ujar bibi sambil membawa koperku memasuki sebuah
kamar dilantai 2.
“Terima
kasih, bi” ujarku. “Justine, thanks ya sudah jadi sopirku, hehehe” candaku.
“Eh, enak
saja!” ujar Justine tidak terima.
Aku segera
masuk ke kamar tanpa menghiraukan Justine yang menggerutu, kurasa aku harus
segera tidur karena hari masih malam dan rasanya tubuhku meminta untuk di
istirahatkan.
“Aku berada dimana ini? Kenapa gelap
sekali... eh tunggu dulu, apa itu yang bercahaya di dasar sungai?”
“Hah! Apa
tadi itu?!” aku terbangun karena mimpi yang tidak jelas. Hari sudah mulai
siang, nampaknya aku sangat lelah hingga tidak terasa menghabiskan waktu yang
banyak untuk tidur. Aku penasaran, tempat apa yang tadi ada dalam mimpiku?
Terasa tidak terlalu asing. Hari ini aku belum ingin berjalan-jalan, yah aku
mau memberi sedikit peluang untuk jiwaku bersantai ria.
“Natha! Ayo
turun, aku antar kamu jalan-jalan!” teriak Justine dari halaman depan rumahnya.
Aku menuju ke jendela dan melihat ia sedang berolahraga.
“Aku tidak
mau” jawabku malas. Oh no, walaupun
jarak kami lumayan jauh tapi aku masih bisa melihat tatapan sinisnya yang
sangat killer. Ia langsung berjalan
cepat menuju tempatku berpijak, ia membuka gerbang rumah bibi.
“hei,
tunggu!” ujarku.
“kenapa?
Tidak boleh? Bibi saja tidak melarang” jawabnya.
“bukan
begitu, jangan injak rumputnya!” larangku karena ia sudah menginjak rumput
mahal dari luar negeri yang ku tanam dengan tanganku sendiri tahun lalu di tepi
taman depan rumah bibi.
“okay, tapi
kamu turun dan kita keliling desa sekarang. Kamu tidak lihat apa, aku sudah
bangun sepagi ini?” ujarnya.
Pagi?!
kutatap langit yang sudah menampakkan rajanya, “kamu pasti belum bangun
sepenuhnya” ucapku menyindir. “apapun alasannya yang pasti aku tidak mau. Kamu
jalan-jalan sendiri saja” tanpa aba-aba lagi Justine langsung berlari-lari kecil
menjauhi rumah bibi, kurasa ia menuruti perkataanku. Aku membuka laptop dan
kulihat, ada sinyal! Itu amazing
sekali untukku, karena sebelumnya di desa ini tidak pernah ada sinyal. Mungkin
pemerintah sudah mulai menanggapi beberapa surat keluhanku atas permasalahan
koneksi di desa ini yang kumasukkan ke dalam kotak saran.
“nona Natha,
sarapannya sudah siap” suara bibi di depan pintu kamar. Aku membuka pintu dan wow! Ada Justine tepat di depanku.
“iya bi,
nanti aku antar Natha turun, sekarang bibi turun duluan ya” pinta Justine
santai.
“iya” jawab
bibi. Bibi menuruni anak tangga dengan berhati-hati.
“so?”
tanyaku.
“baik kalau
sekarang kamu tidak mau jalan-jalan, tapi nanti malam tidak boleh menolak, aku
mau mengajak kamu ke tempat dulu kita sering bermain bersama, ingat! Tidak
boleh menolak” desaknya.
“baiklah”
ucapku malas. Tapi sebenarnya aku memang ingin berkeliling melihat-lihat tempat
yang ada di desa, pasti akan seru apalagi kalau malam, jelas akan sejuk sekali.
“ayo turun!”
ucapnya sambil mendahuluiku.
Aku segera turun. Aku melihat
keluarga bibi dan Justine ada di meja makan yang cukup mewah.
“kenapa kamu
masih disini?” tanyaku pada Justine.
“begini non,
bagaimana kalau kita makan bersama Justine juga? Soalnya Bu Maria menitipkan
Justine kepada saya. Bu Maria sedang berbelanja di kota. Mungkin nanti malam
atau besok ia akan pulang” jelas bi Kavi.
“apa itu
pilihan?” tanyaku yang sudah mengerti keadaan bahwa aku terpaksa makan bersama
Justine yang menyebalkan.
Tidak beberapa lama kami sudah
selesai makan. Kulihat keceriaan di mata mereka, anak-anak bibi Kavi. Aku ingat
bagaimana aku pernah setahun tinggal disini sewaktu papa dan mama mendapat
proyek besar di Jepang dan kurasa dulu aku semanis mereka.
“aku naik
dulu ya” pamitku kepada semua yang ada di meja makan, tapi tentu bukan kepada
Justine.
Tanpa basa-basi lagi aku dengan
cepat menaiki anak tangga dan mengambil laptopku untuk kubawa di halaman
belakang rumah bibi yang sangat hijau. Disana ada ayunan ganda dengan atap
diatasnya. Aku senang sekali berada disini, rasanya sangat tenang. Beberapa
detik sebelum aku selesai menyampaikan perasaanku kepada pepohonan di sekitarku
tiba-tiba ada seorang pengusik yang duduk di depanku. Kami bertatapan sama
sinisnya. Aku menggerutu dalam hati, “kenapa sih ayunan ini ganda? Jadi
berhadapan dengan Justine deh”
“kenapa nona
Pevensie? Ada yang salah?” tanyanya kepadaku.
“oh, jelas
tidak tuan Revel” balasku sambil mencoba mengkoneksikan laptopku dengan sabar.
Akhirnya laptopku sudah terhubung
dengan internet. Aku mencoba membuka salah satu akun jejaring sosialku. Kulihat
banyak sekali pesan dari teman-temanku di kota, mereka bertanya dimana aku
sekarang. Kurasa mungkin aku tidak perlu membalasnya dulu. Setelah aku bosan
memainkan laptop, aku tutup laptopku.
“Justine!”
aku terkejut.
“Kenapa?
Bukannya tadi aku sudah menyapamu?” tanyanya santai.
Menyapa? Apa
itu yang dia sebut menyapa, tatapan sinis tadi?, “aku tahu kamu tadi disini,
tapi aku tidak tahu kalau kau menungguku”
“maaf nona,
aku tidak menunggumu, tapi baiklah jika kau mengharapkannya” ucap Justine yang
nampak acuh.
Tanpa menunggu kata-kata dari
Justine lagi aku segera masuk ke rumah. Ku letakkan laptop di meja besar rumah
itu. Aku mencoba mencari kegiatan, dan hasilnya nol besar. Tidak ada yang bisa
kulakukan. Akhirnya aku memutuskan untuk menonton tv di ruang tengah. Sampai
beberapa waktu, aku merasa hari sudah akan gelap. Aku mandi lalu makan malam.
“cepat!”
ucap Justine tiba-tiba setelah selesai makan. Aku paham maksudnya dan segera
mengikutinya keluar rumah, tentu saja setelah berpamitan kepada bibi.
“disini
nyaman sekali” ucapku menikmati jalanan di desa.
“apalagi
kalau ada aku” ujarnya.
Tanpa aku sadari apa yang dikatakan
Justine itu selebihnya benar. Aku memang merasa aman jika ada dia di sampingku.
Tapi mana mungkin aku bilang begitu padanya.
“kita sudah
sampai” katanya riang.
“ya Tuhan..
indah sekali tempat ini. Apa ini hutan? Ataukah taman?” tanyaku.
“ini hutan
yang lebih indah daripada taman” jawabnya.
Aku benar-benar kagum dengan
keselarasan suasana di tempat ini. Sungguh memukau siapapun yang melihat. Di
sini ada beberapa pohon yang lebat, tapi tidak cukup untuk menghalangi cahaya
rembulan yang akan menghanyutkanku di malam ini. Kulihat lagi setiap sisi hutan
yang indah ini. Ada kunang-kunang dan burung hantu yang menghiasi dan
meramaikan hutan. Tapi, apa itu yang bercahaya di dasar sungai? Tanpa menunggu
lama aku langsung menghampiri sungai yang menarik perhatianku itu.
“Hei! Tunggu
Natha, kamu mau kemana?” tanya Justine.
Aku tidak mempedulikan Justine. Aku
teringat sesuatu. Sesuatu yang sangat kurindukan. “Leo!” teriakku tiba-tiba.
“kamu
kenapa, Natha?” ucap Justine menenangkanku.
“kurasa aku
ingat seseorang. Dia bernama Leo. Siapa dia?” tanyaku memaksa. Justine terdiam
dan tertegun. “katakan Justine! Siapa dia?” kataku mendesak Justine. “aku yakin
dia seseorang yang sangat dekat denganku. Kenapa aku tak ingat sama sekali”
gerutuku.
“Dulu kau
pernah kecelakaan, dan karenanya kau lupa akan beberapa hal penting. Kecelakaan
itu membuat memori terpentingmu hilang termasuk tentang tempat ini” jelas
Justine. Aku merasa pusing memikirkannya. “ayo kita duduk” kata Justine
mengajakku duduk di rerumputan yang ada di tepi sungai.
“aku memang
senang kamu lupa tentangnya karena aku sebenarnya sangat mencintaimu dari dulu.
Tapi aku pikir hatimu sangat sakit tak bisa mengingatnya, jadi kuputuskan untuk
membantu mengembalikan ingatanmu” ucapnya santai yang membuatku terkejut.
“lalu?”
tanyaku.
“dia Leo
Xavier, teman kita dulu. Kamu sangat dekat dengannya, begitu pula denganku.”
ujar Justine jujur.
“kamu tahu
seberapa jahatnya kamu selama ini. Walaupun aku tak ingat tapi aku bisa
merasakan betapa seharusnya aku sangat sakit hati selama ini” bentakku pada
Justine. Dadaku terasa sesak.
“Maafkan
aku, ini benar-benar tidak mudah untukku” ucapnya. “Lihatlah batu bintang yang
ada di kalungmu. Itu adalah batu yang dapat bertelepati. Dulu kau sering
menggunakannya bersama Leo. Leo memberikan satu untukmu dan satu untukku. Tapi
tak kupakai karena aku tak ingin mendengar percakapan kalian yang membuat
hatiku sakit. Aku ingin kau mengatakan sesuatu pada kalung yang kamu pakai
sekarang” ucapnya.
“maafkan
aku, jika aku sudah menyakitimu” ucapku. Aku bingung dengan pernyataan Justine,
apa mungkin suara Leo yang biasa aku dengarkan selama ini? Tanda tanyaku mulai
terpecahkan.
“siapapun
kau Leo, kurasa kau harus menemuiku sekarang. Aku rindu sekali kepadamu” ucapku
pada batu bintang biru yang ada pada kalungku.
“Natha..”
terdengar suara parau yang berasal dari kalungku. Kulihat seisi sungai penuh
dengan cahaya berwarna biru. Dan, aku merasa jutaan memoriku kembali. Aku
menangis sejadinya.
“Leo! Leo!
Kau dimana?” tanyaku khawatir. Setiap kali aku berkata kepada kalungku sungai
di depanku bercaya terang. Aku lelah sekali, kubenamkan mukaku pada lutut
kakiku yang ku tekuk.
“aku ada di
depanmu” ucap Leo Xavier, pangeran fana yang sangat kucintai. Ia adalah
satu-satunya makhluk immortal yang sempurna menurutku. Dulu aku bertemu
dengannya saat aku sedang berlatih pedang di hutan.
Aku tidak melihatnya basah walaupun tadi
ia nampak timbul dari sungai. Seingatku dulu ia tinggal di istana yang ada di
dasar sungai, mungkin hingga sekarang.
“aku pikir
kamu melupakanku” ucapnya dengan suara khas yang sangat kurindukan. Kulihat
Justine yang selama ini menemaniku dan nampaknya aku mulai menyukainya. Tapi
rasa itu seketika menghilang ketika aku melihat Leo. Aku segera berdiri dan
kupeluk Leo dengan erat seakan tak mau lagi ia pergi.
“aku sangat
menyesal Leo..” ucap Justine.
“tak apa,
aku paham. Terima kasih sudah menjaga Natha selama ini” ujar Leo.
“itu bukan
untukmu. Aku menjaganya untukku sendiri. Aku menginginkannya tetap aman” ujar
Justine.
Leo tersenyum dan membalas pelukanku.
Original Post
Tidak ada komentar:
Posting Komentar