Minggu, 07 Desember 2014

Cerpen



TELEPATI

“Okay ma, liburan musim panas ini aku pasti ke desa kok. Aku tutup dulu ya telponnya, dah!”
“Siapa Tha?” tanya Justine.
“Biasa, mamaku menyuruhku untuk ke desa. Katanya sih supaya aku bisa refreshing” jawabku.
“oh, kalau kamu mau berangkat ke desa bilang aku ya. Aku mau bareng sama kamu, aku mau pulang ke rumah keluargaku” ucap Justine. “ya sudah, aku pulang ke apartemen dulu. Sudah selesai kan tugasnya tadi?” tanyanya.
“sudah, cepat pulang sana” ujarku.

            Malam ini adalah malam yang indah. Banyak sekali bintang yang menghiasi langit kota Paris.
“Kenapa sepi sekali sih?” gerutuku. “Halo, Justine. Kamu dimana? Aku akan berangkat malam ini juga” ujarku lewat telepon.
“Lho, kenapa mendadak sekali?” tanya Justine, teman kecilku yang juga teman sekelasku di SMA.
“Kamu mau ikut atau tidak?” tanyaku.
“Eh, iya-iya. Tunggu aku, kita ke desa naik mobilku” ujar Justine.
“Tidak. Pakai mobilku saja. Aku tidak mau meninggalkannya sendiri disini. Kalau kamu tidak mau aku akan berangkat sendiri” ujarku tidak terima.
“Baiklah Nathalie Pevensie.. Okay! Tapi aku yang kemudikan, sampai ketemu nanti” gerutu Justine yang membuatku sedikit tersenyum.
Setelah cukup lama, akhirnya kami sampai di desa tempat tinggal bibi, seorang pembantu rumah tangga yang ada di rumahku. Mama dan papa selalu sibuk ke luar negeri sehingga aku biasanya pergi ke desa untuk berlibur. Sebenarnya rumah bibi itu adalah sebuah rumah cukup besar yang diberikan papa kepada bibi, orangtuaku meminta bibi untuk menerimaku dengan senang hati kapanpun aku akan kesana. Rumah keluarga Justine berada tepat di sebelah rumah bibi.
Tok tok tok!
Ada seorang wanita separuh baya yang membuka pintu, “Oh Nona, silahkan masuk. Saya akan bereskan barang-barang anda” ujar bibi sambil membawa koperku memasuki sebuah kamar dilantai 2.
“Terima kasih, bi” ujarku. “Justine, thanks ya sudah jadi sopirku, hehehe” candaku.
“Eh, enak saja!” ujar Justine tidak terima.
Aku segera masuk ke kamar tanpa menghiraukan Justine yang menggerutu, kurasa aku harus segera tidur karena hari masih malam dan rasanya tubuhku meminta untuk di istirahatkan.
“Aku berada dimana ini? Kenapa gelap sekali... eh tunggu dulu, apa itu yang bercahaya di dasar sungai?”
“Hah! Apa tadi itu?!” aku terbangun karena mimpi yang tidak jelas. Hari sudah mulai siang, nampaknya aku sangat lelah hingga tidak terasa menghabiskan waktu yang banyak untuk tidur. Aku penasaran, tempat apa yang tadi ada dalam mimpiku? Terasa tidak terlalu asing. Hari ini aku belum ingin berjalan-jalan, yah aku mau memberi sedikit peluang untuk jiwaku bersantai ria.
“Natha! Ayo turun, aku antar kamu jalan-jalan!” teriak Justine dari halaman depan rumahnya. Aku menuju ke jendela dan melihat ia sedang berolahraga.
“Aku tidak mau” jawabku malas. Oh no, walaupun jarak kami lumayan jauh tapi aku masih bisa melihat tatapan sinisnya yang sangat killer. Ia langsung berjalan cepat menuju tempatku berpijak, ia membuka gerbang rumah bibi.
“hei, tunggu!” ujarku.
“kenapa? Tidak boleh? Bibi saja tidak melarang” jawabnya.
“bukan begitu, jangan injak rumputnya!” larangku karena ia sudah menginjak rumput mahal dari luar negeri yang ku tanam dengan tanganku sendiri tahun lalu di tepi taman depan rumah bibi.
“okay, tapi kamu turun dan kita keliling desa sekarang. Kamu tidak lihat apa, aku sudah bangun sepagi ini?” ujarnya.
Pagi?! kutatap langit yang sudah menampakkan rajanya, “kamu pasti belum bangun sepenuhnya” ucapku menyindir. “apapun alasannya yang pasti aku tidak mau. Kamu jalan-jalan sendiri saja” tanpa aba-aba lagi Justine langsung berlari-lari kecil menjauhi rumah bibi, kurasa ia menuruti perkataanku. Aku membuka laptop dan kulihat, ada sinyal! Itu amazing sekali untukku, karena sebelumnya di desa ini tidak pernah ada sinyal. Mungkin pemerintah sudah mulai menanggapi beberapa surat keluhanku atas permasalahan koneksi di desa ini yang kumasukkan ke dalam kotak saran.
“nona Natha, sarapannya sudah siap” suara bibi di depan pintu kamar. Aku membuka pintu dan wow! Ada Justine tepat di depanku.
“iya bi, nanti aku antar Natha turun, sekarang bibi turun duluan ya” pinta Justine santai.
“iya” jawab bibi. Bibi menuruni anak tangga dengan berhati-hati.
“so?” tanyaku.
“baik kalau sekarang kamu tidak mau jalan-jalan, tapi nanti malam tidak boleh menolak, aku mau mengajak kamu ke tempat dulu kita sering bermain bersama, ingat! Tidak boleh menolak” desaknya.
“baiklah” ucapku malas. Tapi sebenarnya aku memang ingin berkeliling melihat-lihat tempat yang ada di desa, pasti akan seru apalagi kalau malam, jelas akan sejuk sekali.
“ayo turun!” ucapnya sambil mendahuluiku.
            Aku segera turun. Aku melihat keluarga bibi dan Justine ada di meja makan yang cukup mewah.
“kenapa kamu masih disini?” tanyaku pada Justine.
“begini non, bagaimana kalau kita makan bersama Justine juga? Soalnya Bu Maria menitipkan Justine kepada saya. Bu Maria sedang berbelanja di kota. Mungkin nanti malam atau besok ia akan pulang” jelas bi Kavi.
“apa itu pilihan?” tanyaku yang sudah mengerti keadaan bahwa aku terpaksa makan bersama Justine yang menyebalkan.
            Tidak beberapa lama kami sudah selesai makan. Kulihat keceriaan di mata mereka, anak-anak bibi Kavi. Aku ingat bagaimana aku pernah setahun tinggal disini sewaktu papa dan mama mendapat proyek besar di Jepang dan kurasa dulu aku semanis mereka.
“aku naik dulu ya” pamitku kepada semua yang ada di meja makan, tapi tentu bukan kepada Justine.
            Tanpa basa-basi lagi aku dengan cepat menaiki anak tangga dan mengambil laptopku untuk kubawa di halaman belakang rumah bibi yang sangat hijau. Disana ada ayunan ganda dengan atap diatasnya. Aku senang sekali berada disini, rasanya sangat tenang. Beberapa detik sebelum aku selesai menyampaikan perasaanku kepada pepohonan di sekitarku tiba-tiba ada seorang pengusik yang duduk di depanku. Kami bertatapan sama sinisnya. Aku menggerutu dalam hati, “kenapa sih ayunan ini ganda? Jadi berhadapan dengan Justine deh”
“kenapa nona Pevensie? Ada yang salah?” tanyanya kepadaku.
“oh, jelas tidak tuan Revel” balasku sambil mencoba mengkoneksikan laptopku dengan sabar.
            Akhirnya laptopku sudah terhubung dengan internet. Aku mencoba membuka salah satu akun jejaring sosialku. Kulihat banyak sekali pesan dari teman-temanku di kota, mereka bertanya dimana aku sekarang. Kurasa mungkin aku tidak perlu membalasnya dulu. Setelah aku bosan memainkan laptop, aku tutup laptopku.
“Justine!” aku terkejut.
“Kenapa? Bukannya tadi aku sudah menyapamu?” tanyanya santai.
Menyapa? Apa itu yang dia sebut menyapa, tatapan sinis tadi?, “aku tahu kamu tadi disini, tapi aku tidak tahu kalau kau menungguku”
“maaf nona, aku tidak menunggumu, tapi baiklah jika kau mengharapkannya” ucap Justine yang nampak acuh.
            Tanpa menunggu kata-kata dari Justine lagi aku segera masuk ke rumah. Ku letakkan laptop di meja besar rumah itu. Aku mencoba mencari kegiatan, dan hasilnya nol besar. Tidak ada yang bisa kulakukan. Akhirnya aku memutuskan untuk menonton tv di ruang tengah. Sampai beberapa waktu, aku merasa hari sudah akan gelap. Aku mandi lalu makan malam.
“cepat!” ucap Justine tiba-tiba setelah selesai makan. Aku paham maksudnya dan segera mengikutinya keluar rumah, tentu saja setelah berpamitan kepada bibi.
“disini nyaman sekali” ucapku menikmati jalanan di desa.
“apalagi kalau ada aku” ujarnya.
            Tanpa aku sadari apa yang dikatakan Justine itu selebihnya benar. Aku memang merasa aman jika ada dia di sampingku. Tapi mana mungkin aku bilang begitu padanya.
“kita sudah sampai” katanya riang.
“ya Tuhan.. indah sekali tempat ini. Apa ini hutan? Ataukah taman?” tanyaku.
“ini hutan yang lebih indah daripada taman” jawabnya.
            Aku benar-benar kagum dengan keselarasan suasana di tempat ini. Sungguh memukau siapapun yang melihat. Di sini ada beberapa pohon yang lebat, tapi tidak cukup untuk menghalangi cahaya rembulan yang akan menghanyutkanku di malam ini. Kulihat lagi setiap sisi hutan yang indah ini. Ada kunang-kunang dan burung hantu yang menghiasi dan meramaikan hutan. Tapi, apa itu yang bercahaya di dasar sungai? Tanpa menunggu lama aku langsung menghampiri sungai yang menarik perhatianku itu.
“Hei! Tunggu Natha, kamu mau kemana?” tanya Justine.
            Aku tidak mempedulikan Justine. Aku teringat sesuatu. Sesuatu yang sangat kurindukan. “Leo!” teriakku tiba-tiba.
“kamu kenapa, Natha?” ucap Justine menenangkanku.
“kurasa aku ingat seseorang. Dia bernama Leo. Siapa dia?” tanyaku memaksa. Justine terdiam dan tertegun. “katakan Justine! Siapa dia?” kataku mendesak Justine. “aku yakin dia seseorang yang sangat dekat denganku. Kenapa aku tak ingat sama sekali” gerutuku.
“Dulu kau pernah kecelakaan, dan karenanya kau lupa akan beberapa hal penting. Kecelakaan itu membuat memori terpentingmu hilang termasuk tentang tempat ini” jelas Justine. Aku merasa pusing memikirkannya. “ayo kita duduk” kata Justine mengajakku duduk di rerumputan yang ada di tepi sungai.
“aku memang senang kamu lupa tentangnya karena aku sebenarnya sangat mencintaimu dari dulu. Tapi aku pikir hatimu sangat sakit tak bisa mengingatnya, jadi kuputuskan untuk membantu mengembalikan ingatanmu” ucapnya santai yang membuatku terkejut.
“lalu?” tanyaku.
“dia Leo Xavier, teman kita dulu. Kamu sangat dekat dengannya, begitu pula denganku.” ujar Justine jujur.
“kamu tahu seberapa jahatnya kamu selama ini. Walaupun aku tak ingat tapi aku bisa merasakan betapa seharusnya aku sangat sakit hati selama ini” bentakku pada Justine. Dadaku terasa sesak.
“Maafkan aku, ini benar-benar tidak mudah untukku” ucapnya. “Lihatlah batu bintang yang ada di kalungmu. Itu adalah batu yang dapat bertelepati. Dulu kau sering menggunakannya bersama Leo. Leo memberikan satu untukmu dan satu untukku. Tapi tak kupakai karena aku tak ingin mendengar percakapan kalian yang membuat hatiku sakit. Aku ingin kau mengatakan sesuatu pada kalung yang kamu pakai sekarang” ucapnya.
“maafkan aku, jika aku sudah menyakitimu” ucapku. Aku bingung dengan pernyataan Justine, apa mungkin suara Leo yang biasa aku dengarkan selama ini? Tanda tanyaku mulai terpecahkan.
“siapapun kau Leo, kurasa kau harus menemuiku sekarang. Aku rindu sekali kepadamu” ucapku pada batu bintang biru yang ada pada kalungku.
“Natha..” terdengar suara parau yang berasal dari kalungku. Kulihat seisi sungai penuh dengan cahaya berwarna biru. Dan, aku merasa jutaan memoriku kembali. Aku menangis sejadinya.
“Leo! Leo! Kau dimana?” tanyaku khawatir. Setiap kali aku berkata kepada kalungku sungai di depanku bercaya terang. Aku lelah sekali, kubenamkan mukaku pada lutut kakiku yang ku tekuk.
“aku ada di depanmu” ucap Leo Xavier, pangeran fana yang sangat kucintai. Ia adalah satu-satunya makhluk immortal yang sempurna menurutku. Dulu aku bertemu dengannya saat aku sedang berlatih pedang di hutan.
            Aku tidak melihatnya basah walaupun tadi ia nampak timbul dari sungai. Seingatku dulu ia tinggal di istana yang ada di dasar sungai, mungkin hingga sekarang.
“aku pikir kamu melupakanku” ucapnya dengan suara khas yang sangat kurindukan. Kulihat Justine yang selama ini menemaniku dan nampaknya aku mulai menyukainya. Tapi rasa itu seketika menghilang ketika aku melihat Leo. Aku segera berdiri dan kupeluk Leo dengan erat seakan tak mau lagi ia pergi.
“aku sangat menyesal Leo..” ucap Justine.
“tak apa, aku paham. Terima kasih sudah menjaga Natha selama ini” ujar Leo.
“itu bukan untukmu. Aku menjaganya untukku sendiri. Aku menginginkannya tetap aman” ujar Justine.
            Leo tersenyum dan membalas pelukanku.

Original Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar